Murid Suka Melaporkan Temannya

Murid Suka Melaporkan Temannya

Murid Suka Melaporkan Temannya

“ Bu guru, tadi Laila  buang sampahnya sembarangan padahal sudah saya bilangin bu, tapi ga mau dengerin”. Tidak lama kemudian kembali lagi dan melaporkan lagi “ Bu guru Fahri sama Jihan ga mau menyapu kelas padahal hari ini mereka jadwalnya piket”. Ga lama  kembali lagi, dan mengatakan “ Bu guru tadi Alif  ga mau nulis bu padahal kan harusnya menyelesaikan tugasnya tapi malahan main-main bu”.

Tidak jarang guru mendapatkan laporan atau aduan dari murid-murid seperti di atas.

Kemudian bagaimana kita menyikapinya?

Dalam dunia pendidikan guru dan murid adalah komponen yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling terkait satu sama lain. Dunia guru yang selalu berhubungan dengan banyak murid dari berbagai daerah, kultur dan latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Setiap murid juga memiliki sifat keunikan masing-masing. Ada murid  yang cuek, ada murid yang selalu ingin diperhatikan, dan ada juga murid yang sering mengadu atau melaporkan setiap kejadian yang dialaminya atau yang dilihatnya. Baik yang berhubungan dengan dirinya atau tidak.

Menghadapi murid yang berbeda  karakter tersebut, guru harus mempunyai sikap

dan ucapan yang bijak supaya tidak menyinggung atau membuat muridnya merasa tidak nyaman. Memang tidak mudah dan terkadang membutuhkan tenaga ekstra. Apalagi disaat bersamaan guru sedang menyelesaiakan koreksian atau tugas yang lain. Di waktu yang bersamaan tersebut datang murid kita melaporkan hal-hal yang dianggap mengganggunya atau tidak sesuai dengan peraturan di dalam kelasnya. Malah terkadang murid yang melapor atau mengadu ke guru adalah murid yang sama. Sehingga guru agak  merasa terganggu.

Biasanya murid yang masih suka mengadu atau melaporkan setiap kejadian

adalah murid tingkat SD dan yang berada di kelas rendah  yaitu antara kelas 1 dan  2. Hubungan guru dan murid di kelas-kelas  tersebut masih sangat dekat karena biasanya sekolah masih menggunakan system guru kelas. Sehingga apapun yang terjadi di dalam kelas mutlak guru harus mengetahuinya.

Lalu apakah murid yang sudah naik ke kelas 3 berhenti mengadu? Belum tentu. Terkadang kebiasaan mengadu atau melaporkan sesuatu masih menjadi kebiasaan. Walaupun di usia tersebut diharapkan sudah lebih mampu menyelesaiakan masalah-masalah kecil yang dihadapinya. Laporan atau pengaduan murid yang terlalu sering itulah yang diakui atau tidak, membuat guru harus menahan napas sejenak untuk berfikir jernih dan mampu menanggapi aduan atau laporan murid tanpa nada tinggi. Kenyataan dilapangan,  guru yang selalu dianggap sempurna di mata murid kita, dituntut untuk mampu menghadapi berbagai masalah dan karakter murid tanpa pengecualian.

 

Sumber :

https://ruangseni.com/