Pembatal-pembatal Wudhu

Table of Contents

Pembatal-pembatal Wudhu

Pembatal-pembatal Wudhu

Setelah kita mempelajari, cara-cara berwudhu yang benar .. Maka kita harus pula mengerti beberapa perkara yang membatalkan wudlu’, agar kita lebih berhati-hati daripadanya dan dapat berupaya menyelamatkan ibadah kita dari kemungkinan batal atau sia-sia setelah kita bersusah-payah mengerjakannya. Kewajiban mengerti tentang pembatal-pembatal wudlu’ ini, sama dengan kewajiban mengerti tentang cara-cara berwudlu’ yang benar. Adapun pembatal-pembatal wudlu’ itu adalah sebagai berikut:

1). Keluarnya sesuatu dari dua jalan, yakni dari kemaluan depan dan dari kemaluan belakang. Apakah sesuatu yang keluar itu benda cair ataupun benda padat, bahkan juga angin yang keluar dari keduanya. Semua itu adalah perkara yang membatalkan wudlu’. Dalil bagi ketentuan demikian ini adalah sabda Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam:

“Tidak ada kewajiban wudlu’ kecuali karena suara ketut atau keluar angin (yakni keluar angin dari lubang anus ataupun dari lubang vagina, pent).” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya juz 1 – 2 hal. 97 hadits ke 74 bab Fil Wudlu min Ar-Riihi dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu, juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya hadits ke 515, dan Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra jilid 1 halaman 117 dari Abu Hurairah radliyallahu `anhu).

Al-`Allamah Shiddiq Hasan Khan rahimahullah mengatakan dalam kitab beliau Ar-Raudlatun Nadiyyah halaman 30: “Sesungguhnya makna batal wudlu’ lebih luas dari apa yang beliau terangkan. Akan tetapi beliau memperingatkan pembatal wudlu’ yang paling ringan, sehingga hukumnya demikian pula dalam perkara pembatal wudlu’ yang lebih berat daripadanya. Dan tidak ada perselisihan pendapat para Ulama’ dalam hal pembatal wudlu’ yang satu ini.”

2). Berhubungan seksual pria dengan wanita yang diistilahkan dalam Syari’ah dengan jima’, yaitu bila kemaluan pria telah masuk ke dalam kemaluan wanita. Demikian diterangkan oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla jilid 1 hal. 231 masalah ke 166. Para Ulama’ telah sepakat batalnya wudlu’ bila terjadinya hal yang demikian. Dalil bagi ketentuan demikian adalah firman Allah Ta’ala:

“Dan bila kalian berjunub, maka bersucilah daripadanya.” (Al-Mai’dah: 6)

Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurtubi rahimahullah telah menerangkan dalam Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, atau terkenal dengan Tafsir Al-Qurtubi, ketika menafsirkan An-Nisa’ 43, bahwa telah ijma’ (sepakat) para Ulama’ dari kalangan Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam bahwa berjunub itu ialah bila keluar mani dari kemaluan atau jima’. Maka bila berjunub itu bukan saja harus berwudlu’ untuk menunaikan shalat, akan tetapi harus berwudlu’ dan mandi.

3). Makan daging unta juga membatalkan wudlu’. Karena Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam telah menyatakan demikian sebagaimana dalam riwayat berikut: Dari Jabir bin Samurah bahwa ada seorang pria yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam:

“Apakah aku berwudlu’ setelah makan daging kambing?” Beliau menjawab: “Bila engkau mau, maka silakan engkau berwudlu’ dan bbila engkau tidak mau maka tidak ada kewajiban wudlu atasmu.” Kemudian orang tersebut bertanya lagi: “Apakah aku berwudlu’ setelah makan daging unta?” Beliau menjawab: “Ya, berwudlu’lah setelah makan daging unta.” (HR. Muslim dalam Shahihnya juz 4 hadits ke 360 / 97 Kitabul Haidl).

4). Memegang kemaluan adalah termasuk membatalkan wudlu’. Karena telah terdapat hadits shahih yang diriwayatkan oleh Busrah bintu Shafwan radliyallahu `anha, bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka janganlah dia shalat sehingga dia berwudlu’.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya jilid 1 hal. 126 hadits ke 82, An-Nasa’i dalam Sunannya hadits ke 163 & 164, Al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya jilid 6 hal. 406 – 407 dan lain-lainnya).

Ibnu Hazm rahimahullah menerangkan: “Dan tidaklah membatalkan wudlu’ bila seorang menyentuh kemaluannya dengan tidak sengaja.” (Al-Muhalla jilid 1 hal. 221, masalah ke 163).

5. Tidur nyenyak juga termasuk membatalkan wudlu’, karena telah shahih riwayat yang menyatakan pengertian demikian, sebagai berikut ini:

Dari Shafwan bin Assal beliau menyatakan: Bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam memerintahkan kami bila kami dalam keadaan safar (yakni bepergian jauh) untuk kami tidak mencopot khuf kami (yakni pembungkus telapak kaki sampai menutup mata kaki, yang biasanya dibuat dari kulit hewan dan dipasang di telapak kaki di musim dingin, pent) kami selama tiga hari tiga malam. Kecuali kalau kami berjunub, sedangkan kalau kami buang air besar / kecil, atau karena tidur, maka ketika berwudlu’ cukup dengan mengusap bagian atas khuf kami.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya hadits ke 96. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan tentang hasannya hadits ini dalam kitab beliau Talkhishul Khabir jilid 1 hal. 277 – 288. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dalam Al-Umm jilid 1 hal. 29 –30. Juga Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah meriwayatkannya dalam Musnadnya jilid 4 hal. 239. dan banyak lagi para Imam meriwayatkan hadits ini).

As-Syaikh Al-`Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi`i rahimahullah menyatakan juga hasannya riwayat ini dan beliau memahami dari hadits ini bahwa tidur yang nyenyak adalah pembatal wudlu’ (demikian beliau terangkan dalam kitab beliau Al-Jami’us Shahih mimma Laisa fis Shahihain jilid 1 hal. 522).

Karena dalam hadits ini disebutkan tiga perkara di samping junub yang menyebabkan orang itu harus berwudlu’. Yaitu: Buang besar, kencing, dan tidur. Sehingga tegaslah dengan demikian bahwa tidur adalah perkara yang membatalkan wudlu’ sehingga orang yang bangun dari tidurnya, haruslah berwudlu’. Adapun dalil bagi pendapat yang mengatakan bahwa tidur yang tidak nyenyak tidaklah membatalkan wudlu’ adalah riwayat Anas bin Malik, sebagaimana berikut ini:

Anas menceritakan: “Muadzdzin telah qamat untuk mendirikan shalat berjamaah, dan Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam sedang berbicara berbisik-bisik dengan seorang pria. Beliau terus berbincang dengan orang tersebut sehingga para Shahabat beliau yang akan mendirikan shalat akhirnya tertidur. Kemudian Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam datang ke masjid dan langsung menunaikan shalat dengan mereka para Shahabat beliau yang tertidur itu.” (HR. Muslim dalam Shahihnya hadits nomor 376 / 124).

Sumber : https://anchorstates.net/