Proyeksi Peta

Table of Contents

Proyeksi Peta

Proyeksi Peta

Globe adalah media yang paling sesuai untuk menggambarkan bumi. Akan tetapi, globe memiliki kelemahan, yaitu sulit dibawa ke mana-mana dan sulit digunakan untuk melakukan berbagai kegiatan analisis dan perencanaan karena berupa bidang lengkung. Oleh karena itu, diperlukan upaya pemindahan objek-objek yang terdapat pada bidang lengkung ke dalam bentuk bidang datar. Upaya tersebut disebut dengan proyeksi peta. Proyeksi peta adalah cara pemindahan garis lintang dan garis bujur serta titik-titik objek pada bidang lengkung (globe) ke bidang datar (peta).

Tujuan proyeksi peta adalah untuk melakukan cara-cara sistematis dan matematis dalam memindahkan sifat-sifat bidang lengkung ke bidang datar dengan kesalahan sekecil mungkin. Tidak ada proyeksi yang sempurna karena masing-masing jenis proyeksi memiliki kesalahan sendiri. Kesalahan yang terjadi dalam proyeksi meliputi kesalahan luas, kesalahan jarak, serta kesalahan bentuk dan arah. Tingkat kesalahan proyeksi akan semakin besar apabila bidang yang diproyeksikan sangat luas sehingga terdapat pengaruh kelengkungan bumi. Batas luas maksimal yang masih tidak terpengaruh oleh kelengkungan bumi adalah seluas 30 km x 30 km. Apabila proyeksi dilakukan terhadap wilayah yang kurang dari 30 km x 30 km, maka pengaruh kelengkungan bumi dianggap belum ada.

Pemilihan sistem proyeksi dalam pembuatan peta perlu memperhatikan ciri-ciri asli yang harus dipertahankan, besar dan bentuk wilayah yang dipetakan, serta letak wilayah di permukaan bumi. Proyeksi dapat dibagi berdasarkan pertimbangan intrinsik yang meliputi sifat-sifat asli dan cara melakukan proyeksi, serta pertimbangan ekstrinsik yang meliputi bidang proyeksi, persinggungan, posisi sumbu simetri, dan arah penyinaran.

Proyeksi berdasarkan sifat yang dipertahankan kebenarannya adalah sebagai berikut.

  1. Proyeksiequivalent (equal area), yaitu proyeksi yang mempertahankan keakuratan luas sehingga luas suatu wilayah pada peta sama dengan luas wilayah di permukaan bumi (setelah dikalikan dengan penyebut skala).
  2.     Proyeksiconformal (orthomorphic), yaitu proyeksi yang mempertahankan keakuratan bentuk sehingga sudut-sudut dan bentuk suatu objek pada peta sama dengan sudut-sudut dan bentuk objek di permukaan bumi.
  3. Proyeksiequidistant, yaitu proyeksi yang mempertahankan keakuratan jarak sehingga jarak antara dua objek pada peta sama dengan jarak dua objek di permukaan bumi (setelah dikalikan dengan penyebut skala).

Proyeksi berdasarkan cara memproyeksikan adalah sebagai berikut.

  1.  Proyeksi geometris (perspektif), yaitu proyeksi yang dilakukan dengan metode perspektif melalui prinsip penyinaran.
  2. Proyeksi matematis (nonperspektif), yaitu proyeksi yang dilakukan dengan metode perhitungan matematis.
  3.  Proyeksi semigeometris, yaitu proyeksi yang dilakukan dengan kombinasi antara metode geometris dan matematis.

Proyeksi berdasarkan bidang proyeksi yang digunakan adalah sebagai berikut.

  1. Proyeksiazimuthal (zenithal), disebut juga proyeksi bidang datar, yaitu proyeksi yang dilakukan dengan menggunakan bidang datar sebagai bidang proyeksi. Proyeksi ini paling cocok digunakan untuk memproyeksikan wilayah yang terletak di daerah kutub atau dekat kutub.
  2.  Proyeksi silinder (cylindrical projection), yaitu proyeksi yang dilakukan dengan menggunakan bidang silinder sebagai bidang proyeksi. Proyeksi ini paling cocok digunakan untuk memproyeksikan wilayah yang terletak di daerah ekuator atau dekat ekuator.
  3. Proyeksi kerucut (conical projection), yaitu proyeksi yang dilakukan dengan menggunakan bidang kerucut sebagai bidang proyeksi. Proyeksi ini paling cocok digunakan untuk memproyeksikan wilayah yang terletak di daerah lintang tengah (sekitar 45o).

Proyeksi berdasarkan persinggungan antara bidang proyeksi dan bola bumi (globe) adalah sebagai berikut.

  1.   Proyeksitangential, yaitu proyeksi apabila bidang proyeksi yang digunakan bersinggungan dengan bola bumi.
  2.  Proyeksisecantial, yaitu proyeksi apabila bidang proyeksi yang digunakan berpotongan dengan bola bumi.
  3.  Proyeksipolysuperficial, yaitu proyeksi yang menggunakan beberapa/banyak bidang proyeksi, misalnya adalah proyeksi polyconic (beberapa/banyak bidang kerucut).

Proyeksi berdasarkan posisi sumbu simetri adalah sebagai berikut.

  1.    Proyeksi normal, yaitu proyeksi apabila posisi sumbu simetri berimpit dengan sumbu bumi.
  2.  Proyeksi miring (oblique), yaitu proyeksi apabila posisi sumbu simetri membentuk sudut tertentu dengan sumbu bumi.
  3.   Proyeksi transversal (equatorial), yaitu proyeksi apabila posisi sumbu simetri tegak lurus terhadap sumbu bumi.

Proyeksi berdasarkan arah penyinaran adalah sebagai berikut.

  1. Proyeksignomonis, yaitu proyeksi apabila arah penyinaran berasal dari pusat bumi.
  2.  Proyeksistereografis, yaitu proyeksi apabila arah penyinaran berasal dari kutub yang berlawanan dengan titik singgung pada proyeksi gnomonis.
  3.  Proyeksiorthografis, yaitu proyeksi apabila arah penyinaran berasal dari jauh tidak terhingga.

Masing-masing jenis proyeksi di atas pasti memiliki kelemahan serta terdapat distorsi. Distorsi adalah kesalahan dalam pemindahan garis bujur dan garis lintang pada proses proyeksi sehingga menyebabkan suatu objek pada peta tidak sesuai dengan keadaan aslinya. Distorsi terdiri atas distorsi luas, distorsi jarak (terdiri atas distorsi meridian dan distorsi paralel), distorsi bentuk, serta distorsi arah. Distorsi dapat disebabkan oleh penggembungan bumi di daerah ekuator dan pemampatan di daerah kutub, pertimbangan datum (persinggungan antara bidang elipsoid dan geoid) yang digunakan, serta pengaruh pemindahan sifat bidang lengkung ke bidang datar.


Sumber:

https://kelasips.co.id/